Sabtu, 05 Mei 2012

ANTARA BENCI DAN SAYANG

Menyambung tulisan saya terdahulu (Pilihan Kita ?) kali ini saya akan sedikit berbagi hal-hal unik mengenai pertemanan dan persahabatan.
Mungkin selama ini kita hampir tidak menyadari bahwa dalam pertemanan dan persahabatan, benci dan sayang memiliki batas yang sangat tipis. Itu sebabnya sering kita mendengar ungkapan : “Kalau Benci Jangan Terlalu Benci, Kalau Sayang Jangan Terlalu Sayang”. Kok Gitu Sih..??

Ungkapan itu banyak benarnya. Faktanya ada SATU Persamaan Mendasar antara Terlalu Benci dan Terlalu Sayang. Apa itu ? Keduanya membuat kita sama-sama SULIT UNTUK MELUPAKANNYA. Kalau kita terlalu benci, kita akan selalu memikirkan kebencian kita sama orang tersebut. Terlalu sayang ? Sama kan…, kita akan selalu memikirkan rasa sayang kita terhadap orang tersebut. Jadi keduanya membuat kita selalu terbayang akan orang tersebut.

Fakta berikutnya, ini yang harus diingat. Banyak orang yang akhirnya berubah DARI BENCI MENJADI SAYANG dan sebaliknya DARI SAYANG MENJADI BENCI, dan anehnya hal tersebut bisa tercipta dalam waktu yang sangat singkat. Itu sebabnya saya menyebut bahwa antara benci dan saying memiliki sekat yang nyaris tidak terlihat.

Jadi, intinya…, jika kita tidak suka dengan seseorang, bencilah dia dengan perasaan benci yang sekedarnya saja, jangan berlebihan. Demikian pula bila kita sayang dengan seseorang, sayangilah dia sewajarnya saja. Terlalu Benci ataupun Terlalu Sayang dapat merugikan kita sendiri nantinya.

Banyak fakta yang terungkap bahwa ada orang yang akhirnya dibantu atau ditolong oleh orang yang sangat dibencinya, sehingga akhirnya dia sadar bahwa Kebencian TELAH MEMBUTAKAN MATANYA akan sisi lain dari orang yang dibencinya. Bukankah setiap orang TIDAK ADA YANG SEMUANYA BAIK dan TIDAK ADA JUGA YANG SEMUANYA JELEK. Sejelek-jeleknya orang PASTI ada sisi Baiknya, sebaliknya Sebaik-baiknya orang PASTI ada sisi Jeleknya. Kebencian akan MEMBUTAKAN kita akan sisi baik teman kita, sebaliknya Rasa Sayang akan MEMBUTAKAN kita akan sisi jelek dari teman kita. Dan SATU HAL JUGA YANG PERLU DIINGAT…BUKANKAH KITA JUGA TIDAK SEMPURNA ? KITA PUN PUNYA SISI JELEK. Sangat mungkin bahwa tanpa kita sadari ADA orang lain yang juga sangat membenci kita sama seperti kita membenci teman kita. Jadi Pertemanan dan Persahabatan adalah sebuah Hal yang SANGAT UNIK dan PENUH MISTERI. Jadi pandai-pandai memanage rasa benci dan rasa sayang.

CERPEN: Loe…Gue…End…!


JAKARTA, 2009. Reuni yang diadakan di Hotel Hilton cukup sukses. Sekitar 95% alumni menghadirinya. Reuni akbar. Bahkan sudah 30 tahun saya tidak pernah bertemu dengan mantan teman-teman kuliah. maklum, selama 15 tahun saya tinggal di Jawa Timur, sehingga tiap ada reuni angkatan saya, saya tak bisa menghadirinya. Apalagi teman-teman tidak ada yang tahu alamat baru saya di jawa Timuur.
”Hai! mas Harry! Apa khabar?” tiba-tiba ada seorang menyapa saya. Ternyata Della. nama lengkapnya Della Purnamasari. Adik kelas sewaktu kuliah.
“Hai! Apa khabar Della!” sayapun langsung mencium pipinya. Cium persahabatan. Della memang masih seperti dulu, cantik dan banyak bicaranya. Suka ngobrol. Bedanya, Della sudah menjadi seorang ibu dari dua orang anak.
Acara reuni cukup meriah. Apalagi Della yang sejak dulu punya hobi menyanyi juga ikut menyumbangkan suara. Dia memang punya talenta uuntuk itu. Sayapun punya gagasan, ingin membantu mengorbitkan Della melalui stasiun ttelevisi agar menjadi penyanyi terkenal. Bahkan kalau bisa menjadi pemain sinetron.
“Wah! Suara Della tetap masih bagus seperti dul!,” saya angkat dua jempol tangan saya selesai Della menyanyi. Diapun duduk di dekat saya. Saat itu satu meja ada enam kursi, yaitu saya, Della, Mathias Muchus, Rudy Rayadi, Suhata Wiramiharja, Faisal Salmun dan Armi Helena. kami bersahabat akrab sejak di kampus. walaupun dulu berbeda tingkat dan berbeda kelas, namun kami ttetap komppak. Maklum, kami semua dulu aktivis senat mahasiswa.
“Oh, ya,Della. Mau nggak diorbitkan jadi penyanyi terkenal?” saya menawarkan niat baik ke Della. Dellapun menengok ke arah saya setengah percaya setengah tidak percaya.
“Ah! yang benar…” katanya sambil menunggu jawaban.
“Serius. Kebetulan saya punya kenalan di SCTV. Kalau Della mau, kapan-kapan saya antarkan ke SCTV,” saya serius berkata. Dellapun menggeser kursinya lebih dekat dengan saya.
“Wow! Kalau serius, boleh juga,nih! Kapan rencananya?” Della semangat bertanya.
Akhirnya, kamipun berjani Sabtu depan bertemu dulu di food court, Plasa Senayan. Dan Dellapun datang diantarkan suaminya. Sesudah Della duduk, suaminyapun meneruskan perjalanannya mengantarkan anak-anaknya ke kolam renang.
Begitulah, setelah membuat rencana yang matang dan sesudah makan siang, sayapun mengantarkan Della ke SCTV. sayapun langsung memasuki ruangan produksi tempat teman saya bekerja.
Sayapun memperkenalkan Della ke Handoko, manajer produksi SCTV. Sehari sebelumnya memang saya sudah kontak dia melalui ponsel.
“Boleh! Siap mengikuti audisi? Kebetulan hari ini saya mau men-tes enam calon penyanyi termasuk Della,” kata Handoko. Tentu saja Della menjawab siap. Dan memang hari itu juga Della langsung mengikuti audisi. Cukup lama juga. Sekitar enam jam untuk enam peserta. Ada enam juri yang menilainya. hasilnya akan diberitahukan lewat SMS seminggu kemudian.
Alhamdulillah! Seminggu kemudian saya dapat SMS dari Handoko, bahwa dari enam peserta, hanya dua orang yang lolos, termasuk Della. Langsung saya kontak Della. Dan mulai esok harinya saya selalu menjemput Della untuk keperluan latihan. Suaminya tidak bisa mengantarkan karena kerja di kantor.
Begitulah. Tidak hanya latihan suara, tetapi juga latihan gerak tubuh atau koreografi.Bahkan juga membahas kostum atau pakaian untuk artis. Tentu, pakaian seorang artis harus berbeda dengan pakaian nonartis.
Sebulan kemudian, Della telah muncul di SCTV mengisi beberapa acara musik. Honornya meemang semula tak seberapa, namun ketika ada sebuah perusahaan sabun menawarkan untuk menjadi bintang iklan, maka penghasilan Della-pun meningkat. Bahkan bulan berikutnya perusahaan mie instan, perusahaan shampo, dan perusahaan motor juga memintanya menjadi bintang iklan. Ratusan juta rupiah mulai mengalir ke rekeningnya.
Sebetulnya saya tidak meminta imbalan. Namun, kalau Della memberi seagian rezekinya, saya juga tidak menolak. Menolak rezeki itu tidak baik. Tidak perlu malu-malu. yang penting saya tidak meminta.
Sampai suatu saat, ketika akan rekaman, Mathias Muchuspun hadir. Iseng-iseng saya menyampaikan gagasan saya untuk membuat sinetron berdasarkan novel-novel yang saya buat. Kebetulan saya telah membuat enam buah novel. Kebetulan Muchus yang saat itu juga menjadi pemilik dan pengelola production house (PH) tidak keberatan dengan syarat akan membaca semua novel saya terlebih dulu.
Alhamdulillah! Salah satu novel saya, yaitu yang berjudul “Misteri Gelas Pecah” disetujui untuk ditampilkan dalam bentuk sinetron. Sayapun mengusulkan agar Della sebagai salah satu pemeran utamanya. Ternyata Muchus tidak keberatan.
Bulan-bulan berikutnya, Dellapun tidak hanya sibuk rekaman untuk bernyanyi, tetapi juga sibuk shooting sinetron. Konsekuensinya, tiap hari saya selalu antar jemput. Dan dengan penuh pengertian, sayapun kecipratan rezeki dari Della. Apalagi, lagu-lagu ciptaan sayapun telah mendominasi pasaran lagu di Indonesia. Dan akhirnya, Della secara khusus anya membawakan llagu-lagu ciptaan saya.
Tanpa terasa, sinetron “Misteri Gelas Pecah” yang sebagian shootingnya di Yogyakarta, selesai sudah. Lemudian disambung untuk men-sinetronkan novel saya yang berikut. Yaitu, “Balada Pantai Lovina” dan disusul “Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta”.
Setahun sudah. Della sudah berubah menjadi kaya raya. Punya moobil pribadi. Tiodak mau saya jemput lagi. Jadi tiap kali ada acara ke SCTV, dia datang dan pulang menyetir mobil barunya. Sayapun tak banyak lagi buang-buang tenaga untuk antar jemput Della. Namun konsekuensinya, saya juga jarang bertemu dengan Della. Apalagi, akhir-akhirnya Della lebih sering bermain sinetron daripada bernyanyi. Cuma, setelah keenam sinetron saya habis, Della membintangi sinetron yang dibuat oleh orang lain. Konsekuensinya saya tidak dapat apa-apa.
“Kok, begini jadinya?” gerutu saya. Usaha saya membuat novel barupun tak pernah tterealisasi. Serasa ide saya macet. Bahhkan untuk mengarang lagupun tak sebanyak dulu. Apalagi, akhir-akhir ini sikap Della agak berubah. Kalau dulu selalu ada di dekat saya, sekarang lebih dekat dengan para selebriti lainnya. Kalau saya mendekati, Della selalu menghindar secara halus dengan berbagai alasan.
Lama-lama, sikap Della semakin jelas. Mencoba menjauhi saya. Tak membutuhkan saya lagi. Kalau saya datang ke rumahnyapun, saya selalu diusir secara halus. Begitu pula, tiap kali bertemu di SCTV, Della cepat-cepat bergabung dengan teman-teman artis lainnya.
Akhirnya, suatu saat, selesai Della shootiing sinetron, sayapun mencoba bertanya secara baik-baik ke Della, kenapa kok sikapnya berbeda. Semula jawabannya diplomatis dan berusaha tidak melukai perasaan saya. Namun dari hari ke hari, sikapnya berubah. Ketus!
Itulah yang menyebabkan saya menjadi emosi.
“Kok Della sekarang menjauh dari saya?” tegur saya di gedung SCTV.
“Ya, kan saya sudah bisa mandiri. Sudah ada pengarang lagu lain. Sudah ada pembuat novel dan sinetron lain. Lagu-lagunya juga lebih enak. Sinetronnya juga lebih bagus,” begitu jawwaban Della. Walaupun diucapkan secara baik-baik, tetapi cukup menyinggung perasaan.
“Kalau begitu, Dela memberlakukan saya bagaikan habis manis sepah dibuang?” agak keras saya berkata.
“Terserah apa kata Harry. Yang pasti situasi sudah berubah!” katanya ketus sekali.
Akhirnya, terjadilah pertengkaran yang cukup hebat antara saya dan Della.
Dan akhirnya sayapun mengambil keputusan untuk memutus persahabatan saja.
“Oke! Loe…Gue…End…!” keras kata saya sambil menggerakkan tangan kiri ke kiri dan tangan kanan ke kanan. Simbol putusnya persahabatan.
“Baik! Loe…Gue…End…!” balas Della dengan suara keras pula sambil kedua tangannya membuat simbul putusnya sebuah persahabatan.
Dellap dan teman-temannya masuk ke lift dan menghilang dari pandangan saya. sayapun segera keluar dari gedung SCTV. Pelan, saya kemudikan Honda Freed saya meninggalkan halaman gedung.
“Huh! Saya tidak menyangka, maksud baik saya jadi begini…” gerutu saya.

Cerpen Persahabatan : SAHABAT SEJATI

Cerpen Persahabatan : SAHABAT SEJATI yang sangat menyentuh sekali, cerpen yang satau ini merupakan sebuah Cerpen Cinta  yangbukan berari untuk seorang pacar melain kan seorang sahabat cerpen ini mengingat kan kita pada sebuah Cerpen Persahabatan Sejati buat teman teman yang penasaran silakan baca dech moga teman teman berkenan jangan lupa koment ya

langsung baca dech...biar gak penasaran...

*sebuah kisah yang aku ambil dari cerita seorang temen kampusku, walau ada penambahan di dalam'a dan jadilah cerita ini*

Senja yang dulu indah kini menjadi temaram dan bulan yang dulu purnama kini perlahan berubah menjadi sabit. Seperti keadaan hati seorang gadis remaja yang meratapi kekosongan dan kehampaan hatinya karena ditinggal oleh sahabat yang selama ini setia menemaninya baik syka maupun duka. Dulu, waktu usiaku beranjak 17 tahun, aku mempunyai beberapa sahabat salah satunya Icha. Icha tinggal di Ciracas, JakartaTimur. Dia anak pertama dari 2 bersaudara, dia adalah seorang remaja yang lugu dan sangat ceria. Kami bersahabat suddah cukup lama, aku kenal Icha waktu kami sama-sama mendaftar di salah satu SMP favorit di Jakarta. Setelah awal oerkenalan itu,pertemanan kami berlanjut karena kami diterima di SMP itu. Kami selalu bersama-sama bagai amplop dan perangko yang tak dapat terpisahkan, itulah kami. Kami juga selalu satu kelas.

Setelah lulus SMP aku dan Icha memutuskan untuk satu sekolah, hari pertama aku dan Icha menjalani ospek, rasanya takut dan tegang banget, tapi aku melihat seorang cowok yang sangat perfeck di kantin sekolah, dia sangat manis apalagi pada saat aku melihatnya sedang tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya, manis sekali senyumnya, disaat aku sedang asyik memperhatikan cowok itu tanpa ku sadari didepanku ada salah seorang kakak senior yang sangat galak, upzzz…. Aku menabrak dia, dia marah-marah padaku meski aku telah minta maaf padanya, lupakan saja dia kita kembali pada cowok yang aku lihat tadi, tapi aku mencari-cari kesekeliling kantin tapi cowok itu udah gak ada. Icha hanya tertawa melihat tingkah lakuku. Huh… ini semua gara-gara keteledoranku, tapi gak apa-apa suatu hari nanti pasti aku dapat bertemu dengannya kembaali karena aku yakin dia siswa di SMA ini. Aku dan Icha melanjutkan perjalanan kami ke kelas. Ospek pertama telah dimulai, ada beberapa kakak senior masuk kekelas tanpa ku sadari cowok yang ku lihat di kantin sekolah tadi pagi ada didepan mataku. Aku senang sekali karena aku kembali beetemu dengannya walau dia tak ku kenal sama sekali.
Aku mencari tau siapa sebenarnya cowok itu, dari beberapa orang yang aku tanya mereka mengatakan dia adalah ketua osis, namanya radit, Cuma itu informasi aku dapatkan tentang dia, tapi udah cukup kok. Singkat cerita aku dan kak Radit mnjedi tambah akrab tapi cuma sebatas teman. Yang tak pernah aku duga ternyata kak Radit naksir sama Icha, aku sedih banget karena dia adalah cinta pertamaku, tapi apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa, dan aku juga sempat kecewa pada Icha karena dia menerima kak Radit menjadi kekasihnya, Icha kan tau kalau aku suka sama kak Radit tapi kenapa dia tega padaku. Mungkin inilah nasibku, setelah kejadian itu persahabatan aku dan Icha menjadi renggang, aku jarang menyapanya dan sepertinya juga dia sekarang jarang ada waktu buat kita berdua sanma-sama lagi seperti dulu. Lagi pula aku tak sekelas dengannya.

Waktu terus berputar, tanpa terasa tahunpun berganti. Akhir-akhir ini aku melihat Icha tampak murung dan gak seperti biasanya yang sangat ceria. Walau aku belum bisa memaafkan Icha tapi walau bagaimanapun dia adalah sahabatku dan aku harus tau apa yang sedang terjadi. Satauku dari berita yang beredar kalau Icha mengidap penyakit tumor yang bersarang diperutnya sejak beberapa tahun ini, sejak dokter memfonis penyakit itu Icha berubah menjadi nak yang pemurung danpendiam. Aku sangat merasakan perubahan itu, tapi setiap kali aku tanya dia tak pernah mau cerita dan jujur padaku. Menurutku dia berubah menjadi seperti itu karena mungkin dia merasa hidupnya tak akan lama lagi. Seiring berjalannya waktu perut Icha makin membesar, aku belum percaya dengan apa yang temen-temen bilang padaku. Aku desak Icha untuk menceritakan apa yang terjadi padanya, akhirnya Icha mau bercerita. Aku sempat terkejut mendangarnya sekaligus sedih bercampur dengan rasa kekecewaan, mengapa baru seekarang dia cerita semua itu padaku. Tapi mungkin karena aku tak sedekat dulu sama dia. Aku juga denger-denger dari yang laen Icha putus, Icha diputuskan kak Radit karena keadaan Icha dg perut yang makin membesar. Aku sedih sekali, tapi dia pernah menghianati persahabatan yang telah lama kami bangun.

Icha masih tetap sekolah, tapi lama kelamaan dia merasa kecil hati dan malu. Dengan kondisi tubuh yang semakin menurun, sampai akhirnya Icha dirawat di Rumah sakit Haji Pondok Gede. Aku dan teman-taman menjenguknya untuk memberikan semangat dan dukungan padanya agar Icha gak semakin drop dan putus asa. Hanya sampai disitu saja kabar yang aku dengar tentang Icha, disatu sisi aku masih kecewa padanya tapi disisi lain aku juga mempersiapkan UN.
****

Pagi hari yang sangat gelap karena hujan turun begitu derasnya, aku sedang duduk melamun memikirkan bagaimana keadaan Icha sekarang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan ringtone handphoneku yang berbunyi dank u lihat dilayar hpku ternyata mamanya Icha memanggil, fikirku tumben tapi ada apa ya, kok pagi-pagi gini tante telfon aku. “halo assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Cika?”, nada suara mama Icha tampak berat, sepertinya dia sedang menangis. “ii…aaa tante, ada apa kokpagi-pagi begini telfon Cika? Trus bagaimana kabar Icha tante?” tanyaku agak ragu, “Icha telah berpulang Ka” belum sempat aku mengucapkan turut berduka cita pada tante, tut…tut…tut…tut telfon tiba-tiba terputus. Aku menangis dan menyesali dengan semua yang terjadi, dihatiku tersirat penyesalan yang amat mendalam, aku terlalu jahat dan egois pada Icha dan gak pernah meluangkan waktu untuk menjenguk sahabatku sendiri yang menjalani hari-hari akhirnya sendirian, tanpa aku. “Maafkan sahabatmu ini Ca…..hik..hik..hik…!!!” tangisku
Aku datang ke rumah Icha untuk melihat dia terakhir kalinya dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Icha. Setibaku disana aku melihat Icha terbaring kaku, dikelilingi orang-orang yang membaca yasin untuknya, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. “Icha…..” panggilku, “sudahlah Ka, relakanlah kepergian Icha, agar dia tenang di Alam sana” mama Icha ada disampingku, dan memberikan selembar kertas padaku, “ini dari Icha buat kamu, dia menulis pada saat kamu jarang menemuinya, tante tinggal dulu kebawah”. “makasih tante dan Cika minta maaf kalo selama ini Cika gak pernah menjenguk dia, Cika lagi UN tante,” aku menangis. “gak apa-apa kok tante ngerti, kamu ada masalah ya sama Icha?” tanya mama Icha, “eng…enggak kok tante, kami berdua baik-baik saja””ya udah jangan nangis lagi, tante ke bawah bdulu ya” tante pun meninggalkanku sendiri di kamar Icha karena Perlahan-lahan tadi aku pingsan, aku melihat foto-foto yang ada dimeja samping tempat tidur, betapa lembutnya senyum Icha di foto itu. aku buka kertas ituperlahan-lahan, dan aku pun mulai membaca kata demi kata disurat itu.
Sebelumnya gue minta maaf atas kejadian kemaren”, bukan maksud gue untuk merebut kak Radit dari lo, tapi gue juga cinta dia dan gue juga udah putus ma dia, karena dia bukan laki-laki yang baik. O ya, lo tau kan kalo gue gak bisa buat puisi kayak lo, tapi ini puisi gue buat khusus sahabat sejati gue ini, maaf ya kalo buatan gue gak sebagus puisi-puisi lo, heheheh……..

Surat Terakhir
Butir-butiran air mata yang jatuh setetes demi setetes
Menemani dan menjadi saksi saat ku tulis suratku yang terakhir
Jika hanya derita yang harus aku terima
Jika hanya kemitian yang harus ku alami
Aku bersedia menjalani tanpa kesedihan
Namun ketika kau berucap bahwa untukku
Sudah tak ada lagi maaf terasa lemah lunglai tubuh ini
Sahabat yang slalu mengisi hari-hariku
Seberapa besarpun salah yang ku pandang
Seberapa rendah budi yang ku jalani…maafkan aku
Derita karena bersalah berlarut-larut tanpa henti
Dan tampaknya Tuhan sudah berkenan menjemputku
Jangan menangis sahabat….walau tak terkatakan
Sungguh aku merasa kau telah memaafkanku
Slamat tinggal sahabat sejatiku
Ikhlaskanlah kepergiankui
Smoga sepeninggalku dari sisimu
Bahagian akan slalu menemanimu
Miss u sobat
ICHA
****

Keesokan harinya Aku baru sadar ternyata Icha hari ini berulang tahun yang ke 17, aku bermalam di rumah Icha, dan pagi-pagi aku segera kebawah dan akan mengikuti pemakaman Icha. Sebenarrnya aku tak sanggup melihat makam itu, karena akan mengingatkanku akan kenangan” kami berdua dulu, tapi aku coba untuk tegar untuk melangkahkan kaki menuju makamnya. Setelah pemakaman selesai dan semua orang pulang, aku sendiri di makam itu, sepi. Aku menangis disamping nisan Icha, walau tersendat-sendat dan terbata karena aku nangis aku nyanyikan lagu happy birthday buat Icha, dan memandangi nisan yang ada dihadapanku saat ini, makam yang sunyi, aku masih menangis sendiri di makam bisu itu, sebelum pulang aku meninggalkan secarik kertas balasan surat Icha, walau mungkin tak akan pernah dibaca olehnya, tapi itulah kenanganterakhirku buat Icha.

Kenangan indah tentang kita akan slalu ku ingat setiap detiknya
Jika ku tutup mataku, aku masih dapat melihatmu
Kau memperlihatkan senyum termanismu
Tapi itu hanya lamunan sesaatku
Kini kau telah jauh tinggalkanku
Aku belum sempat meminta maaf padamu dan menyayangimu
Dan tak ingin kau pergi jauh
Tinggalkan kenangan kita bersama
Tapi takdir berkatab lain
Terlalu cepat Tuhan memanggilmu
Hanya sebuah puisi ini aku persembahkan untukmu
Kepergianmu, meninggalkan kisah yang sangat pahit bagiku
Aku akan selalu mengenangmu, sahabat terbaikku
Semoga kau tenang disana
Suatu saat kita pasti akan bertemu kembali
(the end)

INDAHNYA MASA KECIL

Malam yang sunyi dengan angin yang dingin seraya menemani dua anak kecil berusia 6 tahunan yang sedang menikmati keindahan bintang.
“Kinan, kalo udah gede mau jadi apa?” Feri bertanya sambil menatap Kinan.
“Kalo aku mau jadi pilot!”
“Yang jadi pilot itu kan laki-laki, kamu kan perempuan! Mending kamu jadi perawat aja deh! Jadi perawat nenekku.”
“Aku maunya jadi pilot! Aku nggak mau jadi perawatnya nenek kamu!” Kinan memonyongkan bibirnya ke depan, “Emangnya kamu mau jadi apa?”
“Aku mau jadi orang yang berguna di dunia ini. Bisa nyenengin Mamah, Papah, Nenek, kamu pasti besok juga bangga punya temen kayak aku.”
“Ok, janji ya kamu bakal ngebanggain aku? Awas kalo boong!” kata Kinan sambil menggepalkan tangannya.
“Iya deh, kamu juga janji ya akan terus sama-sama aku sampe gede… jadi aku bisa buktiin ke kamu kalo aku bisa jadi yang terbaik…” Feri tersenyum pada Kinan lalu keduanya sama-sama mengangkat kelingking mereka, “Oh iya, kamu mau nggak jadi pacar aku? Jadi… kita akan terus bareng sampe gede nanti… kayak Mamah sama Papah aku….”

Cerpen - INDAHNYA MASA KECIL

“Okey, kita pacaran yah…” Kinan menggenggam tangan kecil Feri.
***

Lamunan Kinan buyar saat Nina, sahabatnya duduk di samping kirinya dan menawarkan segelas soft drink.
“Lo nggak ada kuliah hari ini?” tanya Nina sambil meneguk soft drink-nya.
Kinan menggeleng pelan.
“Kok masuk sih?”
“Males di rumah, mending ke kampus aja.”
Lama-lama keduanya diam...
“Nin, menurut lo janji masa kecil itu masih berlaku nggak sekarang?” Kinan menatap Nina dan berharap ia mau memberi jawaban.
“Cie... teringat sama kisah masa kecil,” goda Nina menyenggol lengan Kinan.
“Gue serius nih, Nin! Masih berlaku nggak?”
“Nggak mesti, lagipula itu kan udah berlalu... eh, emang siapa sih yang lo maksud?”
“Temen kecil gue! Dia pernah janji, dia bakal ngebuat gue bangga kalo udah gede. Tapi... nggak lama setelah dia ngucapin janji itu, dia ke luar negeri. Padahal dia sendiri yang nyuruh gue janji untuk selalu sama-sama dia, eh malah dia yang ninggalin gue, bahkan dia itu nembak gue. Dengan seenaknya karena masih kecil, gue jawab iya aja.” Kinan menceritakan masa kecilnya pada Nina sambil tersenyum sendiri.
“Oww... So Sweet. Terus selama pisah, komunikasi kalian masih nggak?”
“Nggak tuh. Namanya juga masih kecil, 6 tahun gila! Masa, sekecil gitu udah bisa ngirim gue e-mail?”
“Iya juga sih eh, gue masuk dulu ya? Ada kuliah nih. Bye,”
***
Kinan membawa nampan berisi bakso dan segelas orange juice untuk ia lahap karna perutnya sedari tadi sudah minta untuk diisi. Dengan extra hati-hati ia membawa nampan itu, ketika Kinan hendak duduk, bola basket melayang ke arahnya dan nampannya pun tumpah ke lantai. Kinan menganga dan mendesah.
“Aduh-aduh sori, gue nggak sengaja. Tiba-tiba bola basket... ”
“Stop-stop! Gue nggak butuh alasan, sekarang bersihin nih piring-piring! Awas kalo sampe nggak bersih!” potong Kinan lalu memesan lagi menu yang sama dan dibawanya ke meja tadi. Dilihatnya cowok itu sambil membersihkan kuah yang tumpah.
“Udah bersih! Asal lo tahu ya…”
“Oh, udah bersih yah? Thank deh. Udah untung lo nggak gue suruh ngganti nih makanan,” potong Kinan lagi sambil melahap baksonya.
“Lo kira gue nggak mampu bayar semua makanan lo? Gue beli kantin ini pun sanggup! Sialan!” cowok itu ngacir meninggalkan Kinan yang tersenyum puas.
Setelah jam kuliah Nina selesai, Kinan menghampiri bocah itu yang lagi ngobrol dengan seorang cowok.
“Hei!” sapa Kinan pada Nina, lalu tatapannya beralih pada cowok di samping Nina yang ternyata cowok yang numpahin makanannya barusan.
“Lo lagi?” mereka hampir berbarengan.
“Lo kenal sama cowok ini?” Kinan beralih pada Nina yang tidak tahu letak persoalannya.
“Dia saudara tiri gue, namanya Eri. O ya Er, kenalin ini sahabat gue namanya Kinan,” Nina memperkenalkan Eri pada Kinan.
“Kinan???” raut wajah Eri berubah saat mendengar nama Kinan.
“Kenapa? Lo kaget nama Kinan itu bagus?” Kinan tak mau kalah.
“Perasaan gue tadi nggak ngomong bagus? Aneh aja ada nama lucu,” jawab Eri.
“Sssstt… kalian kenapa sih? Udah pada kenal ya? Nan, ini loch yang namanya Eri yang waktu itu gue ceritain. Mamahnya Eri itu Mamahnya gue sekarang. Dan dia baru aja pulang dari luar negeri trus nglanjutin kuliah disini,”
Kinan hanya mengangkat bahunya, lalu duduk di sebelah kanan Nina.
“Eh, lanjutin yang tadi donk!” desak Nina pada Kinan.
“Yang mana?”
“Cerita masa kecil lo!”
“Apa???” tiba-tiba Eri histeris dan menatap kedua cewek cantik itu.
“Urusan apa lo?” tanya Kinan galak.
“Geer amat sih lo! Eh, gue latihan dulu ya, Nin? Entar gue tunggu lo selesai kuliah deh.” Ucapnya pada Nina.
Nina hanya tersenyum lalu beralih lagi pada Kinan, “Lo ada apa sih sama Eri?”
“Dia itu udah numpahin makanan gue tadi waktu di kantin! Nggak mau minta maaf lagi! Pake ngatain gue segala!” Kinan menceritakan setengah sebal.
“Oh, itu sih biasa! Eri emang anaknya kayak gitu, katanya sih semenjak Neneknya meninggal, terus ditambah lagi Papahnya selingkuh, ortu mereka akhirnya cerai dan nyokapnya menikah sama bokap gue. Dia jadi sering ngerokok,”
“Gue nggak mikiirin!”
***

Nina berada di mobil Eri, keduanya hanya diam, bingung harus memulai pembicaraan apa. Nina juga tidak begitu dekat dengan Eri. Baru juga ketemu satu minggu yang lalu
“Nin, Kinan itu sahabat lo?” Eri membuka pertanyaan.
“He-eh, dia temen gue sejak SMA.”
“Dia punya cerita masa kecil? Ha…ha… tadi gue denger awal-awalnya.”
Nina tertawa, “Iya, dia juga sempet nanya ke gue kalo janji masa kecil itu masih berlaku nggak sekarang, terus katanya dia ditembak sama temen kecilnya itu,”
Tiba-tiba aja Eri nge-rem mendadak. Nina pun melongo, “Ada apa, Er?”
“Enggak!” Eri seperti menyembunyikan sesuatu.
“Lo udah kenal Kinan sebelum gue ya?” Nina menyelidik.
Eri diam, Nina pun semakin bingung dengan tingkah Eri.
“Lo kenapa sih, Er? Naksir sama Kinan ya? Tenang aja gue bantuin deh.”
“Bukan gitu, sebenernya……”
***

“KINAN!!!” Nina beteriak memanggil Kinan sambil berlari menghampirinya. semua orang pun menoleh pada Nina. Kinan pun terkejut melihat tingkah sahabatnya ini.
“Kenapa sih lo?”
“Nih liat, ada bingkisan buat lo! Cepet buka deh, siapa tahu aja dari temen kecil lo, ” Nina bener-bener bersemangat menyuruh Kinan membuka bingkisan itu.
“Ngaco lo! Mana mungkin Feri bisa tahu kampus gue?”
“Udah cepet buka,”
Perlahan-lahan Kinan membuka kado itu, di lihatnya sebuah pesawat-pesawatan kecil. Kinan tersenyum, lalu ia mengambil memo yang berada di dalam kotak itu.

“ Eh masih inget gue nggak? Ehm, sekarang lo masih pengin nggak jadi pilot, Nan? Gue tunggu lo di atap gedung kampus, sekarang!”

Kinan termenung, sebenernya ia sudah yakin kalo Feri lah yang mengirimkan semua ini. Siapa lagi yang tahu kalo dirinya dulu ingin sekali menjadi pilot?
“Iya kan?” Nina mengagetkan Kinan.
“Eh, lo kok tahu kalo ini dari temen kecil gue?”
Nina celingukan lalu menggaruk-garuk kepalanya, “Gue nggak tahu apa-apa kok,”
“Pasti ada sesuatu nih!” selidik Kinan.
“Nggak! Udah sana lo pergi ke atap,”
“Tuh kan! Buktinya lo tahu isi suratnya Feri, hayo… lo pasti dalangnya ya?”
“Oppss… hehe… cepet!!!” Nina mendorong Kinan lalu meninggalkannya.
***
Kinan kini sudah berada di atas atap kampus, tapi tak ada siapa-siapa disini. Kinan cemberut, harapannya pupus lagi untuk bertemu dengan Feri.
“Pasti Nina ngerjain gue, mana mungkin dia bener-bener dateng?” gumam Kinan hampir meneteskan air matanya.
“Siapa bilang?” terdengar suara cowok yang membuat Kinan ingin berbalik dan mengetahui siapa yang kini berada di belakangnya.
Namun, setelah Kinan berbalik, betapa kagetnya ia saat melihat seseorang yang sangat ia kenal berdiri di depannya. Eri.
“Ngapain lo disini?” Kinan merasa dirinya telah dipermainkan oleh Nina dan Eri.
“Mau nemuin temen kecil gue, opps… salah, maksudnya mau nemuin pacar kecil gue!” jawab Eri yang membuat Kinan menatapnya sengit.
“Lo pikir gue mau diboongin sama lo? Ini pasti kerjaan Nina kan? Dia pasti nyuruh lo untuk ngaku-ngaku jadi Feri, biar gue seneng?”
“Nan, gue bener-bener nggak tahu kehadiran gue bisa buat lo seneng. Maafin gue yang dulu pergi ninggalin lo, padahal gue punya janji untuk ngebuat lo bangga. Tapi gue pikir, udah nggak ada harapan lagi untuk nge-raih cita-cita gue, karna… nenek, nyokap-bokap gue udah nggak ada yang bikin gue ngebanggain mereka. Dan gue pikir, lo juga pergi ninggalin gue dan nggak inget lagi sama masa kecil kita… tapi ternyata gue salah, lo masih setia nunggu gue, dan gue ngajak lo kesini biar bisa liat bintang kayak dulu saat kita sama-sama ngucapin janji, meskipun ini siang tapi lo pasti bisa liat pesawat itu kan?” tangan Eri menunjuk kearah pesawat yang melintas di atas.
Kinan tak menjawab, ia hanya menunduk.
“Dari awal gue denger nama lo, gue jadi inget sama Kinan kecil yang dulu selalu main sama gue, bahkan waktu gue main sepak bola pun lo ikut-ikutan, meskipun jatuh!”
Kinan sadar, ia belum menceritakan semua ini pada Nina, jadi ia tak punya alasan untuk menuduh Eri atau Feri yang bukan-bukan.
“Kenapa lo ke luar negeri?” suara Kinan bergetar.
“Nyokap sama Bokap cerai, dan gue disuruh ngikut Nyokap. Lo tahu kan gue sayang banget sama mereka berdua? Pas gue tahu mereka bakal pisah, gue kalut banget, makanya gue nggak sempet pamit sama lo,”
“Lo Feri kecil gue?” Kinan menatap Eri mengelus wajahnya.
“Dan lo Kinan kecil gue?”
“Mana janjinya? Katanya mau ngebuat gue bangga?” tagih Kinan.
“Emmh, nih!” Eri mengeluarkan kristal berbentuk love dan bertuliskan ‘I LOVE YOU’.
Kinan melongo.
“Meski ini nggak bikin bangga, tapi ini bisa bikin lo melongo!”
“Enak aja!” Kinan memukul lengan Eri.
“ Eh, kalo dipikir-pikir kita sebenernya belum putus sejak umur 6 tahun lalu. Kita masih pacaran loh,”
“Emangnya iya? Dari dulu gue nggak pernah ngerasain pacaran sama lo,”
Eri tersenyum.
“Hmmm… Jadi jawabannya apa?”
“I love you too,”
Mereka tertawa di sela-sela tangis, lalu Eri mendekap tubuh Kinan dan mengayun-ayunkannya. Di saat itu juga, Nina datang sambil meniupkan terompet.
“Selamat ya? Ternyata Feri kecilnya Kinan itu Eri saudara gue! Kalo tahu gitu sih, gue kenalin Eri dari dulu aja biar Kinan nggak ngelamun terus!”
Mereka bertiga tertawa lepas, mereka semua telah menemukan kebahagiaan disana.
***
END
 

Tin's Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang